Kamis, 27 Agustus 2009

Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) SMP di Klaten Belum Optimal


Kebiasaan pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada salah satu SMP Negeri di kabupaten Klaten masih bersifat konvensional dan tradisional, hal ini bisa terjadi karena Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga pendidik yang belum melaksanakan KBM dengan baik. Sebagai contoh, salah satu siswa mencatat materi pelajaran di papan tulis dan siswa yang lain mencatat di buku tulis adalah pandangan sehari-hari di dalam KBM. Setelah siswa kelelahan mencatat selanjutnya guru menerangkan atau ceramah didepan kelas. Kondisi seperti ini sudah pasti tujuan pembelajaran tidak mungkin tercapai. Yang didapat siswa hanyalah catatan-catatan suatu konsep dan siswa malas membaca kembali.

Catatan-catatan itu akan cepat usang dan menjadi limbah yang tak punya arti sementara guru berceramah tentang konsep-konsep yang bersifat abstrak. Dengan konsep abstrak tersebut dipastikan bahwa kompetensi yang akan dicapai sepantasnya sia-sia (Bobbi DePorter, 2000).

Tampaknya langkah yang ditempuh guru tersebut sudah menyimpang dari prinsip Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KBM ini menyebabkan Out Come kehilangan kesadaran identitas individu, lokalitas, kreativitas dan daya saing. Ranah kognitif yang selalu di dewa-dewakan dengan latihan soal-soal pelajaran menjadi alat untuk mengeksploitasi otak-otak peserta didik.

Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini diharapkan hasil pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan. Siswa bekerja dan mengalami, bukan hanya transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi atau proses pembelajaran lebih di utamakan dari pada hasil dari pembelajaran.

Makna belajar contekstual
1). Siswa belajar tidak hanya menghafal; 2). Siswa belajar dengan mengalami, bukan hanya diberi informasi oleh guru; 3). Siswa belajar memecahkan masalah dan bergelut dengan ide-ide; 4). Siswa belajar mengembangkan ketrampilan dan pengetahuan; 5). Siswa harus tahu, untuk apa belajar itu; 6). Guru menentukan strategi, dan siswa diberi kesempatan untuk menemukan dan menerapkan ide serta menyadarkan untuk menerapkan strategi mereka sendiri; 7). Siswa ber-acting dan berkarya, sementara guru tidak boleh acting di depan kelas dan siswa menjadi penonton; 8). Pembelajaran berpusat pada bagaimana cara menggunakan pengetahuan baru sehingga strategi lebih penting daripada hasil; 9). Umpan balik diperoleh dari proses penilaian yang benar; 10). Menumbuhkan komunitas belajar harus diutamakan.

Model pembelajaran contekstual
1). Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction/PBI), model pembelajaran dengan menyajikan suatu masalah kepada siswa. Masalah tersebut otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inquiri; 2). Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction), guru harus mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan yang akan dilatihkan kepada siswa secara bertahap. Karena dalam pembelajaran ini peran guru sangat besar, maka guru dituntut agar dapat menjadi seorang model yang menarik bagi siswa; 3). Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning/CL), suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam kelompok setiap anggota bekerjasama untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Diakhir belajarnya semua anggota memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang sama (Brouwer, M.A.W. dkk, 1979).

Hasil survey menunjukan bahwa Pelaksanaan Pembelajaran dengan strategi CTL pada salah satu SMP Negeri di Kabupaten Klaten belum Optimal. KBM masih terfokus pada ranah kognitif, salah satunya adalah kegiatan mengerjakan soal-soal. Data membuktikan bahwa Ranah Kognitif 43,65 %, Ranah Afektif 0,26 % dan Ranah Psikomotorik 13,48 %. Ranah psikomotorik yang mencapai 13,48 % inipun di dominasi 3 bidang studi yaitu ; Penjaskes, Kesenian dan TIK. Jadi pembelajaran dengan strategi Kontekstual belum seimbang dan merata di semua aspek dan di seluruh Mata Pelajaran. Pelaksanaan KBM yang seperti ini sangat jauh dari harapan prinsip KTSP.

Sementara KBM yang menyimpang dari prinsip KTSP adalah 42,61 %. Yang di maksud menyimpang disini adalah kegiatan mencatat dan mendengarkan ceramah guru. Kegiatan siswa disuruh mencatat dan mendegarkan ceramah guru tidak ada dalam prinsip KTSP.

Pendidikan pada dasarnya merupakan pembebasan sosial. Dengan demikian selayaknya guru membumikan materi pelajaran di ruang pendidikan. Pembelajaran di kelas bukan tumpukan informasi yang ditimbunkan di kepala siswa secara paksa. Realitas sosial seharusnya diakomodasi dalam materi pembelajaran. Hal ini penting agar siswa tidak tuna realitas sosial, tuna ketrampilan dan mati rasa atas nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan demikian seharusnya pembelajaran harus kontekstual, yaitu mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa untuk mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini diharapkan hasil pembelajaran lebih bermakna bagi peserta didik.

Penulis Asim Sulistyo
Pemerhati Pendidikan
Tinggal di Krakitan, Bayat, Klaten

0 komentar:

Posting Komentar

Komentarlah Sebagai Tanda Persahabatan...

 

Buku Murah


Masukkan Code ini K1-BE118B-2
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Pasang Link Aku

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Pengikut