Minggu, 16 Agustus 2009

Siswa Belajar Internet Di Warnet


Pada pelajaran IPS Geografi di suatu sekolah, siswa diberi tugas mencari nama-nama pulau di Indonesia. Dalam waktu 90 menit siswa hanya bisa mendapatkan kurang dari 200 nama pulau dalam sebuah buku Atlas, sementara ada siswa yang mencari melalui jaringan internet dalam waktu 15 menit siswa bisa menemukan lebih dari 500 nama pulau.


Ketika ada insiden penyergapan teroris di Temanggung, hampir semua masyarakat memperbincangkan masalah tersebut, tak terkecuali guru-guru di salah satu SMP Negeri di Klaten. Guru-guru masih penasaran ingin tahu keadaan teroris yang ditembak, sementara siswanya sudah tidak lagi penasaran karena siswa-siswa tersebut sudah tahu lebih dahulu melihat photo teroris yang ditembak Densus 88. Sebab siswa itu setiap ada berita popular cepat-cepat mengakses di internet. Fenomena ini artinya, guru tertinggal jauh oleh siswanya sendiri dalam hal ICT.

Belajar dengan Metode Multi Media.
Pembelajaran yang masih konvesional, siswa mendengarkan guru ceramah, mencatat dan mengerjakan soal-soal sangat membosankan siswa. Guru senang berlama-lama berbicara didepan kelas, selanjutnya siswa cepat merasa ngantuk dan hilang semangat. Guru seperti ini akan ketinggalan jauh dengan siswanya seperti cerita nyata di atas. Di indonesia guru yang menguasai Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) baru 10%. Keadaan inilah yang menghambat kemajuan dunia pendidikan Indonesia. Pembelajaran dengan metode multi media sangat efektif, namun kendala yang dihadapi adalah SDM guru yang masih gagap teknologi. Walau disekolahnya ada komputer dan jaringan internet, guru-guru tersebut malas belajar dan lebih senang memerintah atau meminta tolong orang lain. Ironisnya lagi ada guru di sekolah RSBI dan kepala sekolah yang tidak bisa mengoperasikan komputer dan internet.

Sekolah Terkoneksi Internet baru 6%.
Negara Indonesia kurang lebih ada 300.000 sekolah, tetapi yang sudah terkoneksi internet baru sekitar 17.500 sekolah atau 6% (Suara Merdeka, 29 Juli 2009). Sementara di negara tetangga (Malaysia dan Singapura) sudah mencapai 92% sekolah yang terkoneksi internet. Jaringan internet di sekolah, memungkinkan guru dan siswa bisa mengakses internet dengan cepat. Materi-materi pelajaran dan sumber berita terkini akan bisa diketahui secara cepat dan aktual. Dengan demikian guru tak lagi ceramah di depan kelas dan siswa tak perlu capek-capek mencatat buku. Metode seperti ini sudah pasti meteri pelajaran cepat dikuasai siswa dan siswa tidak merasa bosan, ngantuk mendengarkan guru berbicara ngalor-ngidul seperti penjual jamu di pasar.

Guru mengajar internet di Warnet (Warung Internet).
SMP Negeri 3 Bayat, Kabupaten Klaten sampai kini belum terkoneksi internet. Laboratorium komputer telah tersedia 20 unit komputer, namun karena letak sekolahan di daerah pedesaaan sehingga kesulitan untuk memasang jaringan internet. Sementara kurikulum pelajaran TIK harus mengajarkan cara mengakses internet, maka guru TIK harus mencari solusi untuk memberikan pelajaran internet.

Solusinya adalah setiap pulang sekolah pada hari senin, kamis dan sabtu siswa diajak ke Warnet terdekat. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri 6 – 8 siswa. Dua siswa mengoperasikan satu unit komputer internet selama kurang lebih 2 jam. Pertama siswa diajari browsing selanjutnya diajari membuat E-mail dan Web-Blog. Dalam satu bulan menghabiskan biaya kurang lebih Rp 500.000,- dan semua biaya ditanggung dengan dana BOS. Metode pembelajaran internet bekerjasama dengan Warnet ini dirasa paling efektif dan efisien bagi sekolah-sekolah yang belum terkoneksi internet. Namun demikian diperlukan guru TIK yang benar-benar ihklas meluangkan waktu untuk mendampingi siswanya belajar di Warnet.

Siswa yang telah mendapatkan pembelajaran teknologi internet tidak canggung lagi mendatangi Warnet untuk melakukan akses berbagai materi pelajaran. Berikutnya adalah semua guru mata pelajaran harus memberikan tugas siswa untuk mencari materi pelajaran di internet. Dengan tugas-tugas tersebut membuat siswa makin lebih sering mengakses internet. Siswa mendatangi Warnet selalu ada tujuan positif yaitu mengerjakan tugas-tugas sekolah, kalau tidak diberi tugas sekolah siswa malas ke Warnet atau ke Warnet hanya mengakses situs-situs negatif.

Walau 90% guru SMP Negeri 3 Bayat belum bisa mengoperasikan komputer dan internet, tetapi dalam proses pembelajaran semua guru mata pelajaran memberikan tugas siswa mencari materi-materi pelajaran di internet. Metode pembelajaran dengan multi media ini sudah berjalan sejak tahun 2007, hasilnya sangat memuaskan yaitu siswa merasa senang dengan semua mata pelajaran dan siswa tidak Gaptek (Gagap Teknologi).

Penulis Asim Sulistyo
Pemerhati Pendidikan dan Masalah Sosial
Tinggal di Krakitan, Bayat, Klaten

0 komentar:

Posting Komentar

Komentarlah Sebagai Tanda Persahabatan...

 

Buku Murah


Masukkan Code ini K1-BE118B-2
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Pasang Link Aku

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Pengikut