Minggu, 05 Juli 2009

E-Book, BOS Buku Versus Budaya membaca dan Manulis

Pakar pendidikan Said Hamid Husein mengatakan kebijakan Buku Sekolah Elektronik (BSE) sejauh ini tidak efektif bagi sekolah miskin dan sekolah yang berada didaerah terpencil. BSE hanya bisa diakses oleh sekolah kaya dan berada dikota, karena untuk mengakses BSE harus dengan fasilitas komputer dan jarinagn internet, (Suara Merdeka, 17 Juni 2009).

Pemerintah melalui Sekretaris Jendral Departemen Pendidikan Nasional menyiapkan Bantuan Opersional Sekolah (BOS) buku teks pelajaran untuk siswa SD dan SMP senilai Rp 3 triliun. Dana ini untuk pengadaan buku teks lima mata pelajaran badi siswa SD dan SMP, (Suara Merdeka, 20 Juni 2009).


Apakah kalau ada BSE, urusan pendidikan selesai…?
Masalah kualitas pendidikan tidak cukup dengan pengadaan buku secara gratis. Program BSE telah diluncurkan namun kurang efektif. Proses untuk memiliki buku BSE perlu fasilitas yang mahal yaitu selain SDM guru dan siswa juga fasilitas Komputer yang memadai. Guru-guru di Indonesia 75% tidak bisa computer dan siswa 60% dari keluarga kurang mampu. Sementara untuk mengakses internet membutuhkan dana yang cukup mahal.

Untuk apa BOS buku…?
Karena BSE dirasa kurang efektif dan cukup mahal, maka tindakan selanjutnya adalah pemerintah menggelontorkan dana Rp 3 triliun, berupa program BOS Buku untuk siswa SD dan SMP. Dengan program ini diharapkan siswa SD dan SMP tak lagi kekurangan buku teks pada beberapa mata pelajaran.

Seperti apa Budaya membaca dan menulis guru…?
Persoalan yang paling mendasar pada dunia pendidikan di Indonesia adalah Budaya Membaca sangat rendah. Fenomena yang terjadi dilapangan bahwa guru-guru di Indonesia sangat malas membaca. Tentunya budaya guru ini akan berpengaruh pada siswa pada umumnya. Terlihat 96% guru di Indonesia tidak pernah bikin tulisan berupa artikel, buku modul, karya ilmiah dan sebagainya. Guru disekolah hanya mengajar, waktu luang digunakan untuk bergunjing alias omong kosong. Guru yang malas membaca tentu saja tidak bisa membuat tulisan dan jauh ketinggalan dibanding guru-guru di Eropha . Guru yang seperti ini ibarat katak dalam tempurung, sudah merasa pintar, merasa cendikia, merasa seorang pendidik yang super tahu dan merasa setiap omongannya menjadi panutan masyarakat. Padahal kenyataannya guru-guru tersebut miskin ilmu, ibarat Tong Kosong Berbunyi Nyaring.

Apakah Kemampuan baca anak SD dan SMP rendah…?
Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) yang juga Direktur Program Pascasarjana UNY Prof. Djemari Mardapi PhD mengemukakan bahwa berdasarkan suevei, kekmampuan baca siswa SD Indonesia tergolong rendah. Karena siswa Indonesia menduduki urutan ke-26 dari 27 negara yang disrvei. Demikian pula berdasarkan studi TIMSS-R tahun2000,siswa SMP kemampuan membacanya juga rendah, (Suara Merdeka, 2 April 2008).

Pada kenyataan yang terjadi dimasyarakat dewasa ini bahwa pustaka belum dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting keberadaanya. Guru dan siswa lebih senang mendatangi kantin sekolah dari pada datang ke perpustakaan. Guru lebih tertarik membicarakan cerita sinetron daripada membicarakan jurnal karya ilmiah. Dianggapnya gedung perpustakaan hanyalah seonggok gudang tua yang angker dan buku dianggapnya hanyalah sampah-sampah. Padahal pustaka adalah jendela dunia, gudangnya ilmu pengetahuan dan merupakan guru yang paling setia.

Jadi, program BSE dan BOS Buku akan tidak efektif, karena guru dan siswa Indonesia bukanlah pembaca buku yang baik. Sejarah bangsa Indonesia mempunyai budaya membaca yang sangat rendah. Agar program BSE dan BOS Buku bisa berhasil, maka yang perlu diprioritaskan adalah program budaya membaca bagi masyarakat, guru dan pelajar.

Penulis Asim Sulistyo
Pemerhati Pendidikan dan Masalah Sosial
Tinggal di Krakitan, Bayat, Klaten

0 komentar:

Posting Komentar

Komentarlah Sebagai Tanda Persahabatan...

 

Buku Murah


Masukkan Code ini K1-BE118B-2
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Pasang Link Aku

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Pengikut