Selasa, 15 September 2009

Program Induksi Berbasis Sekolah, Proses Perekrutan Guru Baru Berbiaya Mahal



Guru merupakan profesi terhormat dan garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Selama ini guru selalu menjadi tumpuan semua pihak dalam gerbong dunia pendidikan sekaligus sebagai tempat bertanya dan berlindung bagi peserta didik. Untuk itu dalam perekrutan guru baru harus benar-benar melalui seleksi dan menggunakan alat ukur yang tepat. Oleh karenanya dalam seleksi dan pengangkatan guru baru harus melibatkan beberapa stakeholder, yaitu kepala daerah, dinas pendidikan, sekolah, masyarakat dan pemerhati dunia pendidikan yang akuntabel.


Perekrutan guru baru yang selama ini telah dijalani, sering terjadi benturan antara guru, siswa dan masyarakat. Guru sering melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak mendidik, ini dikarenakan kemampuan guru sangat rendah dalam penyesuaian dengan dunia pendidikan dan lingkungan sekolah. Sehingga tidak sedikit guru yang canggung, bingung, gagap dan bahkan dilecehkan oleh muridnya didepan kelas. Atau guru yang galak sehingga ditakuti oleh muridnya, akibatnya guru seperti harimau yang siap menerkam siswa setiap saat.

Fenomena ini akan terus berlangsung apabila pemerintah tidak secepat mungkin untuk mengambil tindakan nyata. Maka perlu meningkatkan kualitas dalam pelaksanaan proses seleksi penerimaan guru. Menurut Abi Sujak, Kepala Subdit Program Derektorat Tenaga Kependidikan telah mempersiapkan program induksi berbasis sekolah dalam proses perekrutan guru baru di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Program induksi ini adalah, guru sebelum terjun mengajar di kelas harus melewati proses penyesuaian selama satu tahun, sehingga guru benar-benar siap dan professional dalam mengajar.

Konsultan Program Induksi dari LPTK UNJ, Edi Rachmat mengatakan, program induksi akan diimplementasikan terutama pada guru pemula yang jumlahnya mencapai sekitar satu juta guru dalam 15 tahun kedepan. Program ini mengajarkan guru untuk mampu menanamkan “mimpi” dan memahami keinginan perserta didik dan bukan kemauan guru (Suara Merdeka, 3 September 2009).

Perguruan Tinggi.
Program induksi berbasis sekolah merupakan suatu cara untuk memberikan pelatihan guru pemula sebelum terjun mengajar di kelas. Gagasan ini sangat bagus, tetapi yang perlu di tinjau lebih mendalam masalah program kurikulum dimana calon guru tersebut menimba ilmu. Produk guru yang telah di cetak perguruan tinggi mestinya sudah siap pakai ketika telah menyandang gelar sarjana pendidikan. Kalau masih diadakan program induksi berbasis sekolah untuk calon guru, berarti kurikulum perguruan tinggi yang seharusnya dilakukan pembenahan agar sarjana pendidikan tersebut mampu melakukan adaptasi dengan dunia anak sekolah.

Apabila program ini benar-benar dilaksanakan, akan terjadi perseteruan antara Direktorat Tenaga Kependidikan Depdiknas dengan lembaga-lembaga pendidikan produsen guru. Lembaga produsen guru dianggap tidak mampu memberikan pembelajaran yang baik pada mahasiswanya, kurikulum dianggap tidak relevan dan yang lebih ironis perguruan tinggi dianggapnya hanya ladang cari uang. Disamping itu guru pemula sudah sarjana pendidikan, kenapa harus menempuh pendidikan lagi selama satu tahun. Guru dengan penghasilan yang minim, tetapi masih ada tuntutan yang membuat guru tersebut menjadi kurang percaya diri, dianggap kurang mampu dan yang paling berat adalah tambahan biaya pendidikan.

Kurikulum induksi.
Agar tidak perlu menambah waktu belajar dan biaya, akan lebih efektif dan efisien kalau program induksi ini dimasukan dalam kurikulum perguruan tinggi. Hal ini, membuat perguruan tinggi dan calon guru merasa percaya diri sekaligus bisa menghemat biaya dan waktu.

Pendidikan atau pelatihan Program induksi berbasis sekolah, bukanlah barang baru dalam dunia pendidikan. Mereka yang sudah menjadi guru telah ada tempat atau wadah dimana guru tersebut mengembangkan diri untuk menjadi guru professional. Wadah seperti MGMP, LPTK, seminar pendidikan, penataran guru, Bintek (Bimbingan Teknis Kurikulum), dan workshop-workshop pendidikan.

Proses seleksi.
Untuk mendapatkan guru yang siap pakai dan professional, maka yang perlu dibenahi adalah kurikulum perguruan tinggi produsen guru dan proses seleksi guru baru. Proses seleksi yang baik dipastikan akan didapatkan guru-guru yang professional. Kejujuran dan kompetensi juru seleksi sangat penting, karena kedua elemen itu apabila diabaikan hanya akan mendapatkan guru-guru yang berkemampuan rendah. Sementara perguruan tinggi produsen guru harus ikut bertanggungjawab kualitas keguruannya. Namun yang terjadi sampai saat ini, perguruan tinggi melepaskannya setelah wisuda dan mencetak sarjana-sarjana pendidikan yang kurang mampu mengajar dan mendidik dengan baik. Oleh karena, pemerintah melalui kementerian pendidikan nasional harus melakukan revolusi kurikulum baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta sehingga tidak perlu lagi ada program induksi berbasis sekolah.

Penulis Asim Sulistyo, S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Tinggal di Krakitan, Bayat, Klaten

0 komentar:

Posting Komentar

Komentarlah Sebagai Tanda Persahabatan...

 

Buku Murah


Masukkan Code ini K1-BE118B-2
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Pasang Link Aku

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Pengikut