Selasa, 15 September 2009

Profil SDK (Sekolah Dasar Kecil) Pugung, Tanggamus, Lampung


Pada umumnya SD (Sekolah Dasar) adalah tanpa ada tambahan K (Kecil), tetapi di Provinsi Lampung ada SDK (Sekolah Dasar Kecil). Sekolah ini tidak jauh berbeda dengan SD pada umumnya di Indonesia, namun SDK ini mempunyai ciri khusus dan sangat unik dalam mengatasi segala masalah yang berkaitan dengan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar).

Bangunan SDK.
SDK adalah sekolah yang berstatus negeri dan memiliki tempat belajar tersendiri. Tempat belajar biasanya sebuah bangunan yang terbuat dari dinding papan atau dinding bambu (gedek). Atap ada yang menggunakan genteng, tetapi di daerah provinsi lampung kebanyakan menggunakan atap rumput alang-alang atau daun pandan. Tanah tempat bangunan menumpang tanah milik warga atau tanah kas desa setempat.



Bangunan SDK sekarang ini sangat memprihatinkan, karena sudah banyak yang dindingnya rusak, atap bocor, berlantai tanah. Luas bangunan sangat sempit, kurang lebih hanya 4 X 12 meter untuk 6 kelas beserta kantor guru. Antar kelas hanya dipisahkan dengan papan, bahkan tidak dilengkapi dengan MCK. Bangunan beserta fasilitas meja, kursi, papan tulis dan Almari didapat dari sumbangan sukarela warga setempat. Apabila ingin melakukan perbaikan, maka diadakan gotong royong secara sukarela dari warga terdekat.

Tujuan didirikan SDK.
SDK didirikan oleh warga secara gotong-royong didaerah terpencil yang jauh dari perkotaan. Jarak dari pusat kota kecamatan tidak kurang dari 15 km. dengan kondisi jalan terjal, tanah becek atau bebatuan serta sulit dilewati dengan kendaraan bermotor roda dua. Tujuannya untuk memberikan tempat belajar bagi siswa yang tidak bisa sekolah di SD reguler karena jaraknya terlalu jauh. Lokasi SDK di tengah-tengah hutan atau diatas pegunungan yang sulit di-akses oleh masyarakat pada umumnya. SDK untuk manampung anak-anak warga dengan kondisi ekonomi sangat miskin. Siswa belajar tanpa sepatu, tanpa seragam dan tanpa biaya apapun.

Siswa SDK terdiri dari anak-anak warga setempat yang jumlahnya kurang dari 40 siswa. Pada umumnya rata-rata setiap kelas hanya terdiri dari 6 siswa. Guru tetap (PNS) satu orang sekaligus sebagai kepala sekolah dan dibantu oleh tenaga guru honorer atau sukarelawan pemuda-pemudi warga setempat yang berpendidikan lulusan SLTP atau SLTA. Honor untuk tenaga sukarelawan tidak lebih dari Rp 25.000 per bulan dan honor ini didapat dari iuran orang tua siswa serta tokoh masyarakat setempat secara sukarela tanpa ditentukan besarnya, bahkan tidak sedikit orang tua siswa yang memberikan hasil bumi kepada guru berupa pisang, ketela, kelapa, kopi, mangga dan lain sebagainya.

Pembelajaran di laksanakan sesuai dengan kurikulum Pendidikan Nasional, namun biasanya yang banyak diajarkan adalah materi pelajaran Ujian Nasional seperti Bahasa Indonesia, matematika, IPS dan IPA. Setelah kelas VI, siswa yang akan mengikuti UN/UNAS harus bergabung dengan SD reguler terdekat, karena SDK tidak mengadakan UN/UNAS sendiri. Bahkan tidak sedikit siswa yang baru kelas V bisa di ikutkan UN/UNAS, bilamana siswa dianggap mampu mengikuti UN/UNAS. Jadi SDK seperti sekolah akselerasi di kota-kota besar.

Jam belajar.
Siswa mulai belajar pukul 08.00 WIB. dan pulang pukul 12.00 WIB. Apabila pukul 08.00 WIB. belum ada guru yang datang, maka siswa yang lebih tinggi membantu belajar siswa dibawahnya. Siswa kelas VI membantu belajar kelas III, siswa kelas V membantu belajar kelas II dan siswa kelas IV membantu belajar kelas I. Selanjutnya apabila sampai pukul 10.00 WIB. guru yang ditunggu-tunggu juga belum datang, maka semua siswa pulang kerumah masing-masing secara bersama-sama.

Di musim penghujan, guru sering tidak datang mengajar ke sekolah. Karena kondisi jalan yang sulit di tempuh selain itu, biasanya guru tetap bertempat tinggal di daerah perkotaan. Sedangkan guru honorer juga jarang datang, karena selain honornya kecil mereka juga mempunyai kegiatan lain seperti bertani, berternak, berdagang dan lain sebagainya.

Rasa solidaritas.
Ketika guru tidak datang mengajar, sementara siswa kelas yang lebih tinggi membantu belajar siswa yang lebih rendah, hal ini menerapkan metode pembelajaran tutor sebaya yang sangat bagus. Penanaman rasa solidaritas terhadap sesama teman ini perlu di acungi jempol dan perlu di contoh untuk siswa-siswi di seluruh Indonesia. Seandainya semua pelajar Indonesia bisa melaksanakan pembelajaran seperti di SDK, maka tidak ada siswa bodoh, tidak ada siswa malas belajar dan tidak ada perkelaian pelajar.

Berdasarkan hasil penelitian, metode pembelajaran yang di terapkan di SDK sangat bagus, karena setelah masuk di SMP siswa dari SDK lebih mandiri dan lebih percaya diri dalam belajar di bandingkan dengan siswa dari SD reguler pada umumnya.

Mungkinkah metode pembelajaran di SDK diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia ?


Penulis Asim Sulistyo, S.Pd.
Tahun 1997 s/d 2004 guru SMPN 2 Pugung, Tanggamus, Lampung
Sekarang Guru SMP Negeri 3 Bayat, kabupaten Klaten, Jawa-Tengah.
Tinggal di Krakitan, Bayat, Klaten, Jateng.


0 komentar:

Posting Komentar

Komentarlah Sebagai Tanda Persahabatan...

 

Buku Murah


Masukkan Code ini K1-BE118B-2
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Pasang Link Aku

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Pengikut