Jumat, 16 Oktober 2009

Kampung Idiot Ponorogo Jawa Timur

Sebagai seorang warga yang pernah hidup selama delapan tahun di sebuah desa yang termasuk Kabupaten Ponorogo dan kini tinggal jauh dari kota tersebut adalah sangat wajar ketika nama kota tersebut itu disebut-sebut seseorang. Terlebih lagi yang menyebut Kota Reog itu adalah penyiar di stasiun TV swasta nasional pula. Berita apa pun berkenaan dengan kota tersebut akan sangat sayang jika diacuhkan, termasuk berita yang dibacakan oleh penyiar TV swasta tersebut. Petang kemarin, Kamis 15 Oktober 2009,

bahwa di desa Balong, Kabupaten Ponorogo ditemukan banyak warga yang mengalami keterbelakangan mental alias idiot. Menurut pengamatan reporter TV tersebut, di antara sebabnya adalah karena warga desa tersebut hidup di bawah garis kemiskinan yang telah berlangsung puluhan tahun. Mereka kekurangan gizi. Tidak jarang di antara mereka yang makan nasi tiwul yang terbuat dari singkong, bahkan nasi tiwul yang mereka konsumsi juga bisa berupa nasi tiwul yang telah mereka tanak berulang-ulang. Tanah tempat mereka tinggal memang sangat tandus. Mereka hidup di rumah-rumah gedek yang beralaskan tanah yang berdebu.

Sorotan kamera yang berulang kali diarahkan ke alas rumah mereka yang berupa tanah berdebu itu semakin lengkap menggambarkan penderitaan mereka ketika berita tentang mereka itu diberi judul "Kampung Idiot". Oh, betapa memilukannya.

Jika Balong disebut sebagai "Kampung Idiot", tidak jauh dari kampung tandus itu, masih sama-sama berada di Kabupaten Ponorogo terdapat kampung yang keadaannya sangat kontras. Itulah Gontor, desa yang namanya lebih dikenal sebagai nama pesantren modern yang sangat kesohor itu. Saking terkenalnya, semua pesantren cabang yang ada di pelosok mana pun diberi nama Pondok Modern Gontor, seperti yang ada di Mantingan, Ngawi, juga di Lampung. Gontor dikenal dengan "Kampung Damai" sebagai terjemahan dari Darussalam. Entah sudah mencapai berapa milyar perputaran uang di pesantren yang telah mengeluarkan sejumlah tokoh nasional itu.

Ketika Kiyai Imam Zarkasyi masih hidup, beliau pernah merasa "gerah" ketika salah seorang petinggi Departemen Agama RI ada yang mengatakan bahwa Pondok Modern Gontor tak ubahnya seperti Menara Gading. Warga di sekitarnya hidup sengsara sementara warga dalam pondok pesantren itu hidup berkecukupan. Karena adanya kesenjangan antara kedua kelas warga tersebut, para santri dan pengajar pun sering merasakan adanya ketegangan. Kondisi seperti itu kini tinggal kenangan. Pembinaan pesantren terhadap penduduk sekitar telah berjalan dengan baik. Mereka dirangkul dalam berbagai aspek kehidupan. Seluruh warga Gontor kini telah merasa memiliki pesantren modern ini.

Berkah keberadaan Pondok Modern ini bukan saja dirasakan oleh warga sekitar desa Gontor saja, bukan pula oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo, tetapi oleh bangsa Indonesia itu sendiri. Pondok Modern Gontor cabang yang didirikan di sejumlah daerah, seperti Lampung, Kendari dan Aceh, misalnya, telah membuka lapangan kerja dan berbagi berkah kepada warga yang tinggal di sekitar pesantren itu.

0 komentar:

Posting Komentar

Komentarlah Sebagai Tanda Persahabatan...

 

Buku Murah


Masukkan Code ini K1-BE118B-2
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Pasang Link Aku

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Pengikut