Kamis, 07 April 2011

Bahasa Indonesia Untuk Siswa Bodoh, Bahasa Inggris Untuk Siswa Pintar

Sebanyak 64,5% dari 154,079 siswa SMA/MA yang tidak lulus Ujian Nasional harus mengulang satu mata pelajaran. Ternyata Bahasa Indonesia dan Biologi adalah mata pelajaran yang paling banyak diulang oleh siswa., kata Mendiknas Muh. Nuh (SM,27 April 2010).

Selain itu banyaknya siswa SMP di Jawa-Tengah yang tak lulus ujian nasional cukup mencengangkan banyak kalangan. Ironisnya, sebagian besar diantaranya tak lulus pada mata pelajaran Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional (SM, 17 Mei 2010).

Apakah sudah tidak penting lagi berbahasa Indonesia ? mungkin ini pendapat sebagian kecil masyarakat yang sudah tidak lagi menpunyai jiwa nasionalisme. Bahasa Indonesia yang hanya dipandang sebelah mata berangsur-angsur bangsa ini akan kehilangan jati diri. Sementara Jepang dan China bisa menguasai sebagian perekonomian dunia karena dengan bahasa mereka sendiri. Bangsa china dan bangsa Jepang adalah bangsa yang paling jelek menggunakan bahasa inggris. Lain lagi Bangsa Indonesia yang memuja-muja bahasa asing (Inggris) malahan membuat perekonomian amburadul, banyak lulusan sarjana menjadi penggangguran dan para penegak hukum tidak bisa membaca dengan benar Kitab Undang-Undang Hukum Perdata/Pidana (KUHP).

Diperparah lagi, dibeberapa sekolah favorit atau Rintisan Sekolah Berstandard Internasional (RSBI) dalam menjaring siswa baru selalu mewajibkan calon siswa bisa berbahasa inggris dengan baik. Siswa yang tidak bisa berbahasa Inggris dilarang ikut mendaftar sekolah RSBI. Dalam proses pembelajaran di semua mata pelajaran, RSBI menggunakan komunikasi Bahasa Inggris. Sekolah yang demikian ini menganggap Bahasa Inggris lebih penting daripada Bahasa Indonesia.

Sekolah yang hanya memilih siswa yang bisa berbahasa Inggris telah melanggar UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Pemujaan bahasa asing dalam pendidikan tidak akan membuat bangsa bisa percaya diri, tetapi akan berkibat menjadi bangsa yang selalu ketergantungan dengan bangsa asing.

Dengan demikian bahwa Bahasa Indonesia untuk siswa bodoh dan Bahasa Inggris untuk siswa pintar. Akibatnya dibeberapa daerah banyak siswa tidak lulus pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Disamping itu juga berakibat pada para penegak hukum sering salah dalam memahami arti pasal-pasal dalam KUHP atau memang pintar dalam memutarbalikan makna ayat-ayat. Mestinya pesakitan terkena hukuman, tetapi banyak tersangka yang bebas dari segala sanksi.

Asim Sulistyo
Pemerhati Pendidikan


6 komentar:

  1. makin banyak kita menyerap budaya asing, maka makin besar potensi berkurangnya nasionalisme. dan akan menjadi lebih parah jika sistem pendidikan kita tidak berusaha menahan pengaruh budaya asing....

    BalasHapus
  2. kalau saya sih, tergantung orangnya saja, semakin banyak ilmu yg diserap seharusnya semakin mapan menyikapinya, begitu ajah deh sob.

    BalasHapus
  3. siswa sekarang memang kebanyakan menyepelekan bahasa indonesia dan menganggap bahasa inggris suatu momok yang menakutkan

    BalasHapus
  4. memang nyatanya lebih mudah b.inggris sob.

    BalasHapus
  5. wah ini harus segera dilakukan perubahan segera ne kalo tidak kan makin parah..
    kunjungi jg bahan bacaan saya :
    jurnal ekonomi andalas

    BalasHapus
  6. Wah gawat ne, masa bahasa sendirinya aja masih belum bisa. tapi menurutku ini sebenarnya bukan masalah bisa atau ganya berbahasa Indonesia tapi ini semata kesulitan memnjawab soal saja

    BalasHapus

Komentarlah Sebagai Tanda Persahabatan...

 

Buku Murah


Masukkan Code ini K1-BE118B-2
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Pasang Link Aku

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Pengikut